Jiwa yang bersih akan melahirkan kedamaian dan ketenangan dalam hati. Jiwa yang bersih tumbuh dari ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, senantiasa melaksanakan amalan-amalan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jiwa yang bersih adalah sumber dari kebahagiaan sejati.
Ulama Syaikh Abdurrazaq Ibn Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah, dalam ebooknya berjudul "Sepuluh Tips Membersihkan Jiwa" terjemah dari buku “Asryu Qawaid Fii Tazkiyatun Nafs” menjelaskan bagaimana kaidah-kaidah membersihkan jiwa sesuai dengan syariat Islam. Berikut ini adalah beberapa rangkuman dari penjelasan Syaikh Abdurrazaq Ibn Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah.
Kaidah Pertama "Tauhid adalah Pokok Penyucian Jiwa"
Sesungguhnya tauhid adalah tujuan kita diciptakan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa.
“ Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu"
(QS. Adz-Dzariyyat: 56)
Tauhid juga merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
"Dan sungguh telah kami utus pada setiap umat seorang rasul yang mereka menyembah kepada Allah dan menjauhi thagut" (QS. An Nahl: 36).
Tauhid merupakan kewajiban pertama yang harus ditunaikan seseorang ketika masuk dalam Islam. Oleh karena itu tauhid merupakan perkara pertama yang wajib diajarkan oleh para da’i yang menyeru manusia kepada Allah.
Allah Ta’alaa telah mengancam orang-orang yang mereka tidak menyucikan jiwa mereka dengan tauhid dan iman dengan adzab yang pedih pada hari kiamat. Allah Ta’alaa berfirman:
"Celakalah orang-orang musryikin. Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al Fushilat 6-7)
Ibnu Taimiyyah rahimmahullah menjelaskan tafsir ayat tersebut bahwasannya, “Tauhid dan imanlah yang bisa menyucikan hati seseorang. Karena ia mengandung peniadaan penyembahan yang tidak benar dari hati serta menetapkan penyembahan yang benar di dalam hati. Inilah hakikat dari kalimat tauhid, Laa ilaha illallah, dan ia (tauhid) adalah asas utama dalam menyucikan hati” (Majmu’ Fatawa, 10/97).
Sebagaimana mana tauhid merupakan asas pokok yang dapat menyucikan dan membersihkan jiwa, maka syirik adalah hal yang paling besar pengaruhnya dalam mengotori dan menghancurkan jiwa. Bahkan syirik juga mampu menghapuskan seluruh amal. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu bahwa jika engkau berbuat kesyirikan maka sungguh amalmu akan terhapus dan sungguh kalian termasuk orang yang merugi” (QS. Az Zumar:65)
Syirik merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah selama-lamanya bagi orang yang yang mati di atas kesyirikan. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An Nisa: 48)
Allah juga telah mengharamkan surga bagi orang yang berbuat kesyirikan. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa:
“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kesyirikan maka sungguh Allah telah haramkan baginya surga dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang yang dzhalim seorang penolong pun”(QS. Al Maidah: 72)
Apabila seorang hamba mampu merealisasikan tauhid dengan benar, maka hasilnya ialah kesucian yang sebenarnya, dan akan menghasilkan hidayah serta kedamaian yang hakiki baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa:
“Orang-orang yang mereka beriman dan tidak mereka campurkan iman mereka dengan kedzhaliman, mereka patut mendapatkan keamanan dan mereka adalah orang yang mendapatkan petunjuk” (QS. Al An’am: 82)
Ketika seorang hamba ikhlas dalam ketundukannya kepada Allah, dan dalam cintanya kepada Allah, maka akan ikhlas pula amal-amalnya, dan akan bersih serta baik jiwanya. Namun, ketika jiwa dirasuki oleh kesyirikan, maka akan masuk pula pada jiwanya kotoran-kotoran dan noda-noda, sesuai dengan kadar kesyirikan yang merasukinya. Maka tidak ada penyucian jiwa kecuali dengan merealisasikan tauhid, mengesakan Allah di dalam ibadah, mengikhlaskan amal hanya untuknya. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa:
“Ketahuilah hanya milik Allah agama yang murni ini” (QS. Az Zumar: 3)
Tidak ada penyucian jiwa kecuali dengan memurnikan jiwa dari kesyirikan dengan seluruh macam bentuknya dan dari segala sesuatu yang mencacati dan melemahkan tauhid.
Kaidah Kedua "Do'a adalah Kunci Penyucian Jiwa"
Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkata, “Tidak ada sesuatupun yang lebih mulia bagi Allah selain do’a.” (At Tirmizdi no 3370)
Do’a merupakan ibadah yang paling afdhal di sisi Allah SWT karena di dalam doa seseorang menampakkan bahwa dirinya lemah, sangat butuh, hina dan rendahkan di hadapan Allah, serta mengakui akan kekuatan Allah, kekuasanNya, kekayaanNya dan kemampuanNya untuk memberikan kecukupan kepada hamba, juga kebesaranNya, dan kekuatanNya yang mampu menggagalkan rencana musuh-musuh, memuliakan orang-orang yang mulia baik dari golongan manusia yang dicintaiNya serta para waliNya. (Mirqaatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih, 4/1527).
Doa juga memiliki pengaruh yang besar terhadap terbukanya pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam di dalam wasiatnya kepada Abil Qasim Al Maghribi, “Do’a adalah pembuka seluruh pintu kebaikan" (Majmu’ Fatawa: 10/661).
Allah telah berjanji barang siapa yang berdoa dan bersandar padaNya, maka akan dikabulkan. Allah Ta’alaa berfirman: “Dan Rabbmu telah berkata berdoalah kepadaku maka akan aku ijabah untukmu." (QS. Al Ghafir: 60).
Dari Mutharif Ibn Asy Syikhir, beliau berkata, “Aku ingatkan akan hal yang merupakan inti kebaikan. Karena kebaikan itu sangat banyak, misalnya puasa dan shalat. Dan itu semua berada di tangan Allah 'Azza wa Jalla, engkau tidak akan mampu mendapatkan apa yang ada di tangan Allah kecuali engkau harus memintanya maka (dengan doa) Allah akan memberimu. Jika demikian, maka inti kebaikan adalah do’a”.
Di dalam ‘Bab Tazkiyah’ terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bahwasanya beliau berkata di dalam do’anya.
“Ya Allah, berikanlah jiwaku ketakwaaan, sucikanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik penyuci jiwa, engkau adalah penguasanya dan pelindungnya" (HR. Muslim no. 2722)
Di dalam do’a tersebut terkandung isyarat dan peringatan bahwasannya sucinya jiwa berada di tangan Allah Yang Mengetahui hal yang ghaib. Dan bahwasanya kunci kesucian jiwa yang paling besar ialah berdo’a dan merasa butuh kepada Allah Ta’alaa. Oleh karenanya Nabi shallallahu’alahi wasallam banyak berdo’a: “Wahai yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu."
Ketika hati seorang hamba bisa fokus, dan jujur akan kebutuhannya, kefakirannya, kuat harapannya, maka ia tidak akan tergesa-gesa meminta agar doanya dikabulkan. Ia pun akan memilih waktu-waktu yang utama, sehingga doa’nya akan mudah dikabulkan.
Hal terbesar yang patut diperhatikan dalam berdo’a ialah keyakinan bahwa bersihnya jiwa berada di tangan Allah Ta’alaa. Allah Ta’alaa, Dia yang menyucikan siapa yang ia kehendaki dan seluruh perkara semuanya milikNya dan di bawah kehendak Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa:
“Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An Nisa: 49).
Allah Ta'alaa juga berfirman:
“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nur: 21).
Ibnu Abbas radhiallahu’anhu menjelaskan makna perkataan Allah Ta’alaa (yang artinya): "niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih”. Maksudnya adalah: “tidak ada seorangpun dari mahluk yang mampu menunjukkan suatu kebaikan yang dengan kebaikan tersebut dapat bemanfaat untuk jiwanya. Tidak pula ada yang mampu menjauhkannya dari suatu keburukan yang akan menimpa dirinya." Artinya, semua hal tersebut adalah murni atas karunia dari Allah Azza Wa Jalla semata.
Al Bara’ radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Demi Allah, seandainya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kita, maka kita tidak akan mampu untuk bersedekah dan tidak pula shalat”. (Al Bukhari No. 4104)
Hidayah, iman dan seluruh kebaikan berada di tangan Allah semata. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menanamkan perkara ini di jiwa para sahabat serta menguatkannya terus-menerus. Rasulullah shallallahu’alahi wasallam sering memulai khutbahnya dengan berkata, “Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk padanya maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang mampu memberikan petunjuk padanya” (Imam Muslim No. 868)
Landasan ini merupakan pintu terbesar untuk menyucikan jiwa. Barangsiapa yang mengetahui bahwa baiknya dirinya, kebersihan jiwanya, dan keistiqamahannya berada di tangan Allah, maka ia akan bersandar padaNya, dan dia berusaha menggapai pintuNya dengan terus menerus bedo’a dengan penuh harap dan kesungguhan. Agar ia mendapatkan beningnya jiwa, keselamatan, dan kemenangan jiwa di dunia dan akhirat.
Kaidah Ketiga "Al Qur'anul Kariim adalah Sumber dan Mata Air Penyucian Jiwa"
Allah Ta’alaa berfirman: “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah), meskipun sebelumnya” (QS. Ali ‘Imran: 164).
Perkara terbesar yang mampu menyucikan jiwa adalah Al Qur'an Al Kariim. Al Qur'an merupakan kitab yang penyucian jiwa, mata air kesucian jiwa, dan sumbernya. Barangsiapa yang ingin jiwanya bersih maka carilah di dalam kitab Allah Azza Wa Jalla.
Ibnu Abbas radhiallahu’anhu berkata, “Allah menjamin bagi orang yang mengikuti Al Qur'an tidak akan sesat di dunia dan tidak akan menderita di akhirat, kemudian beliau membaca ayat:
“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk Allah maka dia tidak akan tersesat dan menderita” (QS. Thaha: 123)
Allah Ta’alaa berfirman:
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yunus: 57)
Ibnul Qayyim rahimmahullah berkata, “Al Qur'an ialah obat yang sempurna bagi seluruh penyakit hati dan badan, begitupula penyakit dunia dan akhirat” (Zaadul Ma’ad: 4/119).
Allah Ta’alaa berfirman:
“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya” (QS. Al Baqarah: 121).
Membaca Al Qur'an dengan bacaan yang sebenarnya adalah dengan membacanya, menghafalnya, memahaminya, dan mentadabburinya, serta mengamalkannya.
Fudhail ibn Iyadh rahimmahullah berkata, “Sesungguhnya Al Qur'an turun untuk diamalkan, maka para salaf menganggap yang dimaksud qira'ah (membaca) adalah mengamalkannya”. (Dikeluarkan oleh Al Ajuriy di dalam kita Akhlaqul Hamalatil Quran, hal.41)
Allah akan memuliakan seorang hambaNya dengan tilawah Al Qur'an, mentadaburi Al Qur'an, dan bersungguh-sungguh untuk mengamalkannya. Dia akan memperoleh bagian besar dari kesucian jiwa.
Kaidah Keempat (Mengambil Sosok dan Panutan)
Allah Ta’alaa berfirman:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab: 21).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini adalah pokok yang penting dalam meneladani diri Rasululullah shallallahu’alaihi wasallam baik dalam perkataannya, perbuatannya dan keadaannya” (Tafsir Ibnu Katsir, 11/322).
Al Hasan rahimahullah berkata, “Suatu kaum di masa Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan: 'Sesungguhnya kami mencintai Rabb kami', maka Allah pun menurunkan ayat:
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihimu” (QS. Ali Imran: 31)
Mengikuti Rasulullah shalllahu’alaihi wasallam dan meneladaninya adalah bukti atas kejujuran dalam mencintai Allah Ta’alaa. Karena mengikuti dan meneladani Nabi shallallahu’alaihi wasallam serta berjalan di atas manhajnya yang lurus merupakan inti penyucian jiwa. Dan tidak mungkin untuk mencapai kesucian jiwa tanpa menerapkan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah suatu timbangan yang agung, wajib bagi kita menimbang segala dengan Rasulullah, baik dalam akhlaknya, perjalanan hidupnya, dan petunjuknya. Apa-apa yang sesuai dengan tuntunan beliau, maka itulah kebenaran. Dan apa-apa yang menyelisihnya maka itulah kebatilan”
Kaidah Kelima Tazkiyah adalah Takhliyyah (mengosongkan) dan Tahliyyah (menghiasi)
Sesungguhnya hakikat dari tazkiyah adalah takhliyah(mengosongkan) jiwa terlebih dahulu dengan membersihkannya dari akhlak tercela, maksiat dan dosa. Kemudian setelah itu tahliyah (menghiasinya) dengan perbuatan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa.
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka” (QS. At Taubah: 103).
Firman Allah Ta’alaa, “thuthahiruhum” di dalam ayat tersebut terdapat isyarat akan kedudukan takhliyyah yang dilakukan dengan cara membersihkan diri mereka dari segala dosa. Sedangkan dalam kata “Wa tuzakkihim” terdapat isyarat mengenai kedudukan tahliyyah yang dapat diisi dengan banyaknya keutamaan dan kebaikan.
Menyucikan jiwa diawali dengan keharusan menjauhi segala macam dosa dan keburukan yang dapat merusak hati serta dapat menghalangi cahaya hidayah dan iman. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat satu kesalahan maka akan ternodai hatinya dengan satu noda yang hitam, maka apabila dia menyesal, beristighfar dan bertaubat maka hatinya akan bersih kembali, namun jika apabila ia mengulang-ulang berbuat (dosa) maka bertambahlah noda tersebut sampai menutupi hatinya. Dan dia adalah Ar-Raan (penyakit) yang telah Allah sebutkan:
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”(QS. Al Muthafifin:14)
Kemudian memotivasi diri dengan keras untuk memperbanyak amalan-amalan shalih yang mampu menyucikan jiwa. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Ankabut: 69)
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Maka tazkiyyah itu walaupun landasannya adalah bertumbuhnya, berkahnya, dan bertambahnya kebaikan, namun ia akan terwujud jika dapat mengangkat berbagai macam keburukan (dari hati). Oleh karenanya jiwa yang sucilah yang mampu mengumpulkan kedua hal tersebut” (Majmu’ Fatawa, 10/97)
Ibnu Sa’di rahimahullah berkata ketika menerangkan firman Allah Ta’alaa:
“Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An Nisa: 49)
Maksudnya adalah dengan iman dan amal shalih. Dengan mengosongkan dari akhlak yang rendah dan berhias dengan sifat-sifat yang indah (Taisir Karimir Rahman, Hal. 182).
Kaidah Keenam Menutup Semua Celah yang Mengeluarkan Seseorang dari Tazkiyatun Nafs, Menjauhkannya dari sifat-sifat Mulia, dan Menjerumuskannya pada sifat-sifat Tercela
Seorang hamba sangat perlu untuk menutup segala celah yang bisa mencemari dan mengotori jiwanya. Terdapat perumpamaan dalam hadits yang menjelaskan bahayanya seorang hamba masuk ke dalam perkara yang dapat menelantarkan agamanya. Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, “Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam jalan ini dan janganlah kalian menoleh kesana kemari!” Sementara di bagian dalam dari jalan itu juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki jalan itu, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, “Celaka kau! Janganlah sekali-kali membukanya! Karena jika kau membukanya maka kau akan masuk kedalamnya.” Jalan itu adalah agama Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’alaa. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan jalan itu adalah Kitabullah (Al-Qur`an). Sedangkan penyeru dari atas jalan adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap hati seorang mukmin." Al Imam Ahmad dalam Musnadnya (17909)
Berkata Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah “Barangsiapa yang ketika masih di dunia keluar dari keistiqamahan di atas jalan (yang lurus), maka dia membuka tirai pintu-pintu keharaman yang ada di sisi kanan dan kiri jalan tersebut, kemudian dia masuk ke dalamnya. Baik hal yang haram itu berupa syahwat maupun syubhat, dia akan disambar pengait-pengait yang berada di kiri dan kanan ash shirath (di akhirat) sesuai dengan kadar dia membuka dan memasuki pintu-pintu keharaman di dunia” (Majmu’ Rasail Ibni Rajab, 1/206).
Di antaranya adalah firman Allah Ta’alaa, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS An Nur ayat 30).
Abu Hayyan Al Andalusi rahimahullah berkata, “Menundukkan pandangan lebih didahulukan dari memelihara kemaluan karena pandangan itu pengantar menuju zina dan sumber keburukan."
Penyesalan di dalamnya lebih dahsyat dan lebih banyak.” (Al Bahru Al Muhith karya Abu Hayyan Al Andalusi, 8/33).
Asy Syaikh As Sa’di rahimahullah, “Sesungguhnya orang yang memelihara kemaluan dan pandangannya, dia akan bersih dari keburukan yang mengotori ahli maksiat. Dan akan tersucikan amal-amalnya, dengan sebab ia meninggalkan keharaman di mana jiwa sangat menginginkan dan mengajak kepada keharaman itu. Maka siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan memberikan dia ganti yang lebih baik dari sesuatu tersebut.” (Taisir Al Karim Ar Rahman: 660)
Oleh karena itu, di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, berupa berlebih-lebihan dalam berkata, memandang, dan sebagainya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kebanyakan maksiat itu berawal dari berlebih-lebihan dalam perkataan dan pandangan. Keduanya adalah tempat paling luas yang dapat dimasuki syaitan karena kedua anggota tubuh ini tidaklah bosan maupun jemu.” (Badai’ul Fawaid, 2/820).
Sudah seharusnya seorang hamba itu berakal dan cerdas, maka dia meminta kepada Allah kesabaran dan keselamatan, dan memotong semua jalan yang mengantarkan pada terlantarnya dan buruknya jiwa. Agama seorang hamba itu adalah modal utamanya. Menyia-nyiakannya adalah kerugian dunia dan akhirat. Terlebih lagi pada zaman kita di mana fitnah-fitnah turun melanda seperti turunnya hujan. Pintu-pintu syahwat dan syubhat terbuka lebar melalui peralatan-peralatan modern, situs-situs tidak jelas, dan aplikasi-aplikasi yang menyimpang, sehingga menggiring banyak manusia kepada kesesatan dan memalingkan mereka dari hidayah Nas’alullaha al ‘afiyah.
Kaidah Ketujuh Mengingat Kematian dan Perjumpaan dengan Allah
Allah Ta’alaa berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS Al Hasyr ayat 18)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan-kelezatan”, yaitu kematian. (Ibnu Majah no. 4258)
Kematian adalah pemisah antara negeri ini (dunia) dan negeri yang kekal (akhirat). Pemisah antara waktu beramal dan waktu pembalasan amal. Kematian adalah batas pemisah antara mempersiapkan bekal (dengan beramal) dengan mendapati balasan amal. Setelah kematian tidak ada lagi ruang untuk taubat dan istigfar dari dosa-dosa. Tidak pula ada ruang setelah kematian untuk memperbanyak pahala kebaikan. Seperti difirmankan oleh Allah Ta’alaa:
“Dan tidaklah taubat itu (diterima) dari orang-orang yang mengerjakan banyak dosa, (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” (QS An Nisa’: 18)
Mengingat kematian bermanfaat yang besar bagi seorang hamba. Dengan ingat kematian, akan bangun hati-hati yang lalai, akan hidup hati-hati yang mati, dan seorang hamba akan memperbaiki persiapannya menghadap Allah, serta akan hilang kelalaian dan keberpalingan dari ketaatan kepada Allah. Sa’id ibn Jubair rahimahullah berkata,
“Seandainya mengingat kematian itu terpisah dari hatiku, aku khawatir hatiku menjadi rusak." Al Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhd no (2210)
Seorang hamba senantiasa dalam kebaikan selama dia merenungkan keadaan saat dia berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat setelah kematiannya, dan tempat kembalinya setelah mati.
Kaidah Kedelapan Memilih Teman Duduk dan Sahabat Dekat
Allah Ta’alaa berfirman,
“Bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Rabb-Nya (Allah) di pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah urusannya menjadi terabaikan (sia-sia)” (QS. Al Kahfi: 28).
As Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsir ayat di atas, “Dalam ayat ini terdapat perintah untuk berteman dengan orang-orang yang baik, untuk bersungguh-sungguh dalam berteman dan berinteraksi dengan mereka meskipun mereka orang-orang faqir. Karena sesungguhnya dalam berteman dengan mereka, terdapat berbagai faidah yang tidak terhitung banyaknya” (Taisir Al Karim Ar Rahman hal. 547).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapakah yang dia jadikan teman karibnya”
(Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam sunannya no. 4833)
Abu Sulaiman Al Khaththabi rahimahullah berkata, “Sabda beliau, “Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman karibnya” maknanya jangan jadikan teman karib kecuali orang yang engkau ridhai agamanya dan amanatnya. Sesungguhnya jika engkau jadikan dia teman karib, dia akan menggiringmu kepada agamanya dan madzhabnya. Jangan engkau berspekulasi terhadap agamamu dan jangan engkau membahayakan jiwamu dengan memilih teman karib dari orang yang tidak diridhai agama dan madzhabnya“ (Al ‘Uzlah hal. 56).
Maka wajib bagi seorang hamba untuk memilih teman-teman duduk yang membantu dalam kebaikan. Karena sesungguhnya mereka termasuk sebab terbesar untuk mensucikan jiwa dan memperbaikinya. Dan wajib waspada terhadap teman-teman duduk yang buruk dan rusak. Karena mereka lebih berbahaya.
Kaidah Kesembilan Waspada Terhadap Ujub dan Tertipu dengan oleh Sendiri
Sebagaimana firman Allah Ta’alaa
“Maka janganlah kamu mengatakan jiwamu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa” (QS. An Najm : 32).
Allah melarang memuji jiwa dengan mengklaim bahwa jiwanya suci dan baik. Karena sesungguhnya taqwa itu tempatnya di dalam hati. Allah yang paling mengetahui tentang orang yang berhasil mendapatkan taqwa. Dan juga karena pujian tersebut dapat menjadi sebab masuknya ujub (perasaan kagum) terhadap diri sendiri, dan riya’ yang menghapus pahala amalan-amalan.
Seorang mukmin bagaimanapun dia bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amal-amal shalih dan menjauhi hal-hal yang diharamkan, maka sesungguhnya dia tetap selalu kurang dan menzhalimi jiwanya. Abu Bakr radhiallahu‘anhu saja yang disebut dengan Ash Shiddiq, sekaligus manusia terbaik setelah para Nabi, ketika beliau meminta Nabi untuk mengajarkannya sebuah doa, yang dia gunakan untuk berdoa kepada Allah dalam shalatnya, Nabi shallallahu‘alaihi wasallam mengajarkan (Abu Bakr) untuk mengatakan ,
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diri sendiri dan tidak ada yang mampu mengampuni dosa melainkan Engkau, maka berilah ampunan kepadaku dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (HR. Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705).
Maka bagaimana lagi dengan orang yang tingkat ketaqwaannya di bawah Abu Bakr!?
Ketika Ummul Mu’minin ‘A’isyah radhiallahu‘anha bertanya tentang firman Allah Ta’alaa:
“Dan orang-orang yang melakukan apa yang telah mereka lakukan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka” (QS Al Mu’minun: 60).
‘A’isyah berkata, “Apakah mereka orang-orang yang bemaksiat meminum khamr dan mencuri ?Nabi shallallahu‘alaihi wasallam menjawab, "Tidak wahai puteri Ash Shiddiq, tetapi mereka adalah orang-orang yang rajin berpuasa, shalat, dan bersedekah, sementara mereka khawatir jangan-jangan apa yang mereka lakukan tidak diterima (oleh Allah).
‘Abdullah ibn Abi Mulaikah rahimahullah mengatakan, “Saya sudah berjumpa dengan lebih dari tiga puluh shahabat (Nabi). Semuanya khawatir kalau-kalau kemunafikan berada pada jiwa mereka."
Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang beriman itu mengumpulkan antara amal shalih dan rasa takut pada adzab Allah. Sementara orang munafiq itu mengumpulkan antara berbuat dosa dan angan-angan kosong”. Kemudian beliau membaca ayat:
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka” (QS Al Mu’minun: 57)
Kaidah Kesupuluh Mengenal Jiwa
Di antara yang mesti dibahas dalam bab tazkiyatun nafs (pensucian jiwa) adalah mengenal hakikat jiwa ini dan mengenal sifat-sifatnya agar mudah memperhatikannya dan merawatnya serta mengobatinya dari berbagai macam penyakit yang menyerangnya. Allah telah mensifati jiwa dalam Kitab-Nya yang mulia (Al Qur’an) dengan tiga sifat yang sudah dikenal. Sifat-sifat ini kembali pada kondisi-kondisi jiwa, yaitu:
Pertama, jiwa yang tenang (an nafsu al muthma’innah). Yaitu jiwa yang tenang dengan iman, dzikrullah, ibadah kepada Allah, dan persiapan (amal) yang baik, sebagaimana firman Allah Ta’alaa:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS Ar Ra’d ayat 28).
Dan Allah Ta’alaa berfirman,
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al Fajr ayat 27-30).
Kedua, jiwa yang banyak mencela (an nafsu al lawwamah). Yaitu jiwa yang mencela pemiliknya karena dia berbuat kesalahan atau dia kurang dalam menunaikan kewajiban, atau tidak sempurna dalam ketaatan, sebagaimana Allah Ta’alaa berfirman dalam surat Al Qiyamah:
“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang banyak mencela” (QS Al Qiyamah: 2).
Ketiga, jiwa yang selalu menyuruh pada keburukan (an nafsu al ammaratu bis su’). Yaitu jiwa yang memotivasi pemiliknya untuk mengerjakan hal-hal yang diharamkan, melakukan dosa-dosa, dan menggiringnya kepada tempat-tempat kemungkaran, tempat-tempat yang hina, serta mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang buruk dan hina. Sebagaimana terdapat dalam surat Yusuf ‘alaihis salam:
“Dan aku tidak membebaskan jiwaku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Rabb-ku.” (QS. Yusuf ayat 53).
Inilah tiga sifat jiwa yang pada hakikatnya merupakan kisaran perubahan kondisi dari jiwa manusia. Oleh karena itu, kondisi-kondisi ini dapat berbolak-balik dan berganti-ganti tergantung faktor-faktor yang ada pada jiwa. Terkadang terkumpul pada diri seseorang sifat-sifat ini sekaligus dalam satu hari sesuai keadaan jiwa.
Para ulama memberikan perumpamaan bagi jiwa seperti ini untuk menjelaskan kondisi jiwa seorang manusia, agar mudah dipahami oleh seorang muslim, sehingga dia akan bersungguh-sungguh untuk memperbaiki dan mensucikan jiwanya setelah itu.
Salah satu perumpamaan dimisalkan oleh Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau berkata, “Jiwa itu (bagaikan) sebuah gunung besar, yang sulit dilalui pada jalan menuju Allah. Semua orang yang berjalan tidak dapat sampai kecuali dengan melewati gunung tersebut. Maka dia harus naik ke puncak gunung tersebut. Akan tetapi, di antara mereka ada yang kesulitan mendaki gunung itu. Di antara mereka ada juga yang mudah mendakinya. Itu akan mudah bagi orang yang Allah mudahkan untuk mendakinya.
Pada gunung tersebut terdapat banyak lembah dan rintangan. Juga penuh kesulitan dan jebakan. Juga pepohonan berduri dengan berbagai macamnya. Demikian juga para perampok yang mengganggu orang-orang yang lewat di jalan, terutama mereka yang melakukan perjalanannya pada malam hari.
Apabila mereka tidak mempunyai bekal iman dan cahaya kesabaran, serta mendapatkan penerangan dengan minyak ketundukan, maka akan terkendala dengan banyak penghalang dan tercegah dengan banyak penghadang, serta mereka pun terhalangi dari tujuan.
Maka sungguh sebagian besar dari para penjelajah tersebut berbalik kembali ke belakang ketika mereka tidak mampu menempuhnya dan (tidak mampu) menembus rintangan-rintangannya.
Di sisi lain, setan di atas puncak gunung tersebut memperingatkan manusia tentang sangat tingginya gunung itu, dan setan pun menakut-nakuti mereka. Maka banyak kesulitan menyatu: kesulitan mendaki gunung yang tinggi ditambah dengan (setan) yang duduk di puncak menakut-nakuti (manusia), juga lemahnya tekad dan niat orang yang berjalan mendaki gunung tersebut. Akibatnya banyak orang yang putus jalan dan kembali. Orang yang selamat adalah orang yang dilindungi oleh Allah.
Semakin tinggi pendaki menaiki gunung tersebut, semakin keras suara setan yang menghadang, memperingatkan, dan menakut-nakuti. Jika (pendaki itu) berhasil melintasi dan mencapai puncak gunung tersebut, hal-hal yang menakutkan itu berubah menjadi keamanan. Seketika itu perjalanan pun menjadi mudah. Gangguan-gangguan di jalan dan siksaan-siksaan yang menyusahkan pun menjadi hilang. Pendaki itu pun akan melihat jalan yang luas lagi aman. Dia pun dapat sampai ke tempat tujuan. Di atasnya terdapat tanda-tanda dan petunjuk-petunjuk di dalamnya yang telah disiapkan untuk hamba-hamba Allah yang melaluinya.
Maka antara seorang hamba dengan kebahagiaan dan kesuksesan, (terdapat penghalang yaitu) kuatnya tekad dan kesabaran sesaat, serta keberanian jiwa dan keteguhan hati. Dan karunia itu di tangan Allah. Dia berikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah mempunyai karunia yang sangat besar.” (Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim, 2/10.)
Perumpamaan ini juga menjelaskan kepada kita kondisi jiwa. Dan bahwa jiwa tersebut perlu penjagaan, terapi, dan pengobatan dari pemiliknya. Jika dia tidak bersungguh-sungguh dalam jalan syari’at dan bersabar di atasnya, niscaya jiwa tersebut akan lepas darinya dan menelantarkannya .
Comments
Post a Comment