Skip to main content

Langkah Mendidik Anak agar Mengajarkan Agama (Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi)

Anak adalah karunia, titipan dan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga sepenuhnya. Anak adalah tanggung jawab penuh orang tua. Orang tua wajib untuk memberikan pengasuhan dan bimbingan terbaik, sehingga anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang sholih sholihah dan berakhlak mulia. 
Berbagai usaha bisa dilakukan orang tua sebagai bentuk ikhtiar dalam pengasuhan kepada anak. Usaha yang paling utama adalah terus mendekatkan diri, memohon dan memperbaiki hubungan kepada Allah SWT. Sehingga hati dan pikiran kita senantiasa mendapat tutunan dari Allah SWT dalam melaksanakan kewajiban dan segala aktifitas. 
Disamping do'a ihktiar lain adalah belajar tentang parenting bagaimana memberikan pengasuhan dan pendidikan yang benar sesuai dengan ajaran Islam. Berikut ini adalah rangkuman dari penjelasan Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi mengenai langkah-langkah orang tua dalam mendidik anak agar mengamalkan ajaran Agama. 

1. Keshalihan Orang Tua
Langkah pertama dan yang paling penting adalah kesalehan kedua orang tua yaitu Ibu dan Ayah. Dengan kesalehan keduanya, anak-anak akan tumbuh menjadi baik. Penyebutan ibu didahulukan dari pada ayah karena beban terbesar dalam pendidikan anak berada di pundak ibu, mengingat kebersamaannya yang lebih lama dengan anak-anak, berbeda dengan ayah yang sibuk mencari rezeki.

Generasi yang mencintai dan mengamalkan agama haruslah tumbuh dari tanah yang baik dan subur, sebagaimana yang dikatakan oleh as-Syaukhi:

"Ibu adalah madrasah jika engkau mempersiapkannya, dengan mempersiapkannya berarti telah menyiapkan generasi yang harum namanya"

Karenanya para ibu memiliki peran besar dan agung dalam membangun kepribadian anak dan dalam mendidik mereka agar mengamalkan agama ini. Demikian juga para ayah, yang memiliki peran besar yang tidak lebih kecil dari peran ibu. Interaksi antara kedua orang tua ibu dan ayah adalah perkara penting yang memiliki pengaruh besar pada kepribadian anak. Interaksi antar kedua orang tua adalah pendidikan harian yang disaksikan langsung oleh anak-anak di depan mata mereka.

Hal baik dalam berinteraksi yang dapat dilakukan orang tua antara lain:
• Orang tua saling menghargai, terkhusus jika di hadapan anak-anak.
• Tidak mempertontonkan perselisihan keduanya di hadapan anak-anak.
• Mengikuti petunjuk Nabi dalam hak-hak pergaulan serta saling komitmen di antara ayah dan ibu dengan hak-hak masing-masing.

Salah satu contoh pentingnya keshalihan ibu dan ayah dalam membangun kepribadian anak adalah Ibu senantiasa menghentikan segala aktivitas ketika mendengar kumandang azdan dan meminta anak-anak untuk melakukan hal yang sama.

Menjelaskan kepada mereka bahwa Allah subhânahu wata'âla- akan mencintai kita jika kita menunaikan shalat tepat pada waktunya. Kemudian segera berwudu dan melaksanakan shalat. 

Dengan demikian anak-anak akan tumbuh sedari dini melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Karena mereka telah belajar sejak kecil bahwa siapa yang melaksanakan shalat pada waktunya akan dicintai oleh Allah. Ini membantu dalam memudahkan anak merealisasikannya.

2. Memberi Anak Nama yang Baik
Nama memiliki pengaruh penting dalam membangun kepribadian, cara hidup, bahkan lingkungan. Nama yang baik itu sendiri pada dasarnya menjadi sumber pengharapan yang baik. Karena itu, sudah seharusnya kedua orang tua memilih nama yang baik, hingga menjadi penginspirasi kebaikan bagi anak.

3. Mengajari Anak Perkara-perkara Syari'at yang harus Dipahami
Anak wajib diajarkan sejak dini perkara-perkara syariat yang harus diketahuinya, seperti shalat, puasa dan yang sepertinya. Hal itu agar mereka tumbuh dengan pertumbuhan yang saleh, seperti ungkapan:

“Belajar di waktu kecil seperti mengukir di atas batu”.
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda: “Perintahkan anak-anak kalian shalat pada umur tujuh tahun, dan pukullah mereka karenanya jika berumur sepuluh tahun. Pisahkan juga tempat tidur mereka."

4. Mengukir Anak dengan Ilmu
Anak-anak pada fase pertama memiliki karakteristik ingatan yang kuat. Sudah semestinya kita arahkan untuk menuntut ilmu dan mengajari mereka perkara-perkara agama. Seperti menghafal al-Quran al-Karim dan sunah nabi yang suci serta menanamkan aqidah yang benar. Ibnu Muflih berkata: 

"Ilmu yang didapat sejak kecil lebih kuat. Sudah seharusnya memperhatikan pelajar muda, terlebih lagi mereka yang memiliki kecerdasan, penalaran dan semangat menuntut ilmu. Janganlah menjadikan usia dini, kefakiran dan kelemahan mereka sebagai penghalang dalam memperhatikan dan fokus pada mereka."

5. Praktik Keteladanan
Praktek keteladanan merupakan salah satu tahapan penting, paling banyak manfaatnya dan lebih tertanam di dalam jiwa anak. Karakteristik fase pertama pada perkembangan anak adalah ia suka meniru. Kita dapat melihat anak meniru ibunya yang sedang shalat. Ikut rukuk ketika ibunya rukuk dan ikut sujud ketika ibunya sujud. Serta hal-hal lain yang dapat kita saksikan siang dan malam. Sudah seharusnya kita mengarahkan peniruan itu dan memanfaatkannya dengan apa-apa yang dapat menghidupkan jiwa mereka agar senang mengamalkan agama ini, dengan cara:

• Menceritakan kisah-kisah sahabat nabi, orang-orang saleh dan ulama.

• Senantiasa menyertakan anak pada setiap momen kebaikan agar dia menirunya seperti pergi ke masjid dll.

• Memperdengarkan kepadanya kaset-kaset Islami yang bermanfaat dan sesuai dengan usianya.

• Melakukan sebagian ibadah di hadapannya, seperti shalat dan sedekah.

Contoh praktis pentingnya praktek keteladanan dalam membangun kepribadian anak adalah bersedekah. Hal sederhana dapat dilakukan orang tua saat menemui orang miskin misalnya, dengan memberikan uang kepada anak dan memintanya untuk menyedekahkan kepada orang miskin tersebut. Setelah itu orang tua memberikan ucapan terimakasih dan pujian kepada anak. Dengan demikian perbuatan baik tersebut akan tertanam dalam dirinya. Praktek seperti ini akan menciptakan generasi yang cinta bersedekah dan memberi
pertolongan kepada yang membutuhkan dan lemah.

6. Membiarkan Anak Beriman, tetapi Temani dengan Tema-tema Agama
Dikarenakan bermain dan banyak bergerak adalah karakteristik anak, hendaknya permainan diarahkan kepada sesuatu yang akan menambah kemaslahatan untuk mengamalkan agama ini. Banyak gerak dan tidak bisa diamnya anak bukanlah aib, kesalahan atau tingkah tidak terpuji. Justru memiliki banyak manfaat. Diantaranya menambah kesehatan, kecerdasan dan keahlian anak sejalan dengan pertumbuhannya. Anak yang tidak bergerak, karena kejiwaan atau paksaan orang tua, akan berakibat pada ketidakstabilan anak, minder, takut, rendah diri atau kesehatan yang lemah, sebagai dampak dari perangai tersebut.

7. Menyemangati Anak dan senantiasa Memberikan Motivasi
Pada fase pertama anak –secara khusus- suka dengan ungkapan pujian dan sanjungan. Ini memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam jiwa anak. Dapat menjadi pendorong untuk menguasai banyak hal. Demikianlah teladan Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- dalam mendidik para sahabatnya memaknai agama ini.

8. Memberikan Arahan yang Sesuai dalam Imajinasi Anak
Anak pada fase awal memiliki keistimewaan suka berimajinasi. Sebaiknya membangun atau menyalurkan imajinasi pada anak dengan sejumlah kisah yang dapat mengenyangkan keistimewaan itu dalam diri mereka, bisa didapat di toko-toko buku Islam, sehingga secara tidak langsung kita telah menanamkan akhlak dengan cara yang disukainya.

9. Langsung Mengarahkan ketika Anak melakukan kesalahan
Pada fase awal, anak sulit membedakan mana yang benar dan yang salah, karena sedikitnya pengetahuan dan ilmu mereka. Hal ini menuntut kita untuk mengarahkan mereka ketika salah, membenarkannya serta melindungi mereka dari keburukan. Yang mesti diperhatikan ketika menasihati anak:

• Hendaknya arahan mengandung kasih sayang terhadap anak yang melakukan kesalahan.

• Menegur kesalahan tanpa masuk kepada kepribadian anak, hingga hasilnya tidak menjadi kebalikannya.

•  Memuji terlebih dahulu sebelum mencela, hal itu akan membuat perkataan anda lebih didengar.

10. Memberi Jawaban atas Segala Pertanyaan dan Mengarahkan dengan Pengarahan yang Sesuai
Yang juga merupakan keistimewaan anak pada fase pertama adalah banyak bertanya dengan pertanyaan yang memenatkan. Bagi setiap ayah dan ibu jangan menghardik putra-putri mereka karenanya. 

Keistimewaan ini memiliki banyak manfaat:
a. Membuka wawasan akal anak.
b. Anak akan lebih dekat kepada orang tua.
c.Mengetahui kecenderungan anak dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya

11. Suka Berkompetisi
Pada fase pertama, anak memiliki keistimewaan menyukai kompetisi di antara mereka. Kita hendaknya mengarahkan kompetisi itu dalam perkara yang mulia. 

Untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS.al-Muthaffifîn:26)

Seperti berkompetisi dalam ketaatan semisal: shalat, puasa dan amalan-amalan sunah lain. Semua itu kita jadikan ajang kompetisi.

12. Menjadi Dermawan dengan lebih Mendahulukan Saudaranya Ketimbang Dirinya Sendiri

Anak-anak pada fase pertama memiliki keistimewaan menyukai kepemilikan. Itu merupakan naluri yang melekat pada setiap anak manusia. Oleh karena itu kedua orang tua hendaknya mengarahkan naluriah tersebut dengan menanamkan kebaikan kaum Anshar, yang dipuji Allah dalam firman-Nya:

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS.al-Hasyr:9)

Yaitu dengan itsar (mendahulukan orang lain). Menanamkannya pada diri mereka dengan praktek langsung maupun tidak langsung, seperti dengan menyampaikan kisah-kisah yang mendorong untuk melakukan itsar.

13. Perhatikan Pakaian Anak

Pakaian penting dalam membentuk kepribadian anak. Sudah seharusnya kita memperhatikannya agar sesuai dengan standar syariat yang sudah jelas tanpa berlebih-lebihan maupun menyepelekannya. Karena itulah para Salafussoleh begitu perhatian dalam hal ini dan tidak melalaikannya.

14. Terapi Emosi Anak

Pada fase pertama, anak memiliki keistimewaan emosional baik pada perkara penting maupun sepele. Di antara perkara penting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

Takut
Di antara kesalahan fatal yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua adalah menakut-nakuti anak dengan kegelapan atau pencuri misalnya. Ini adalah perkara yang salah. Tidak seharusnya ditakut-takuti seperti itu, karena akan berdampak buruk. Hal itu akan menyebabkan gangguan kejiwaan, mengompol, depresi dan kelabilan. Justru semestinya menciptakan suasana aman ketika bersama kita dan mengaitkan perasaan takut hanya kepada Allah saja.

Marah
Terkadang anak marah kepada ayah dan ibunya. Diantara bentuk ekspresi dari kemarahan itu bisa dengan tidak mau makan. Pemicunya bisa jadi hinaan dan kritik. Kemarahan seperti ini tidak termasuk kedurhakaan, karena pada fase ini mereka belum dapat membedakan antara kebenaran dengan keburukan yang sederhana. Jika putra dan putri anda marah, tinggalkan dia dan jangan ditanggapi. Merupakan kesalahan  besar memenuhi segala keinginannya hanya karena kemarahannya. Yang semestinya adalah menjelaskan kepadanya mengenai kesalahannya dengan cara yang sederhana ketika dia sudah mulai tenang. Kita juga mesti mendidik anak kita jika kita marah. Kita akan marah jika berhubungan dengan hak-hak Allah. Raut wajah akan berubah jika melihat kemungkaran yang tidak bisa diubah baik dengan lisan ataupun tangan.

Kecemburuan
Cemburu merupakan salah satu sifat yang melekat dalam jiwa. Ada anak berkata: “Ayah lebih sayang kepada adik bungsuku...” Itu merupakan gambaran kecemburuan. Kedua orang tua mestilah memperhatikan sisi ini dengan perhatian yang besar, dengan cara memberikan setiap anak hak-haknya tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain. Agar tidak lahir permusuhan dan kedengkian di antara mereka.

15. Mendidik Anak agar Memiliki Kecemburuan terhadap Agama

Sudah semestinya para orang tua mendidik putra-putrinya agar memiliki kecemburuan terhadap agama ini, dan itu adalah metode yang dilakukan oleh generasi salaf umat ini dahulu.

Langkah-langkah praktis menghidupkan kecemburuan terhadap agama pada jiwa putra-putri kita :

• Menceritakan kisah-kisah dan permisalan-permisalan anak-anak kecil di masa Sahabat dan Tabi’in akan betapa besarnya kecemburuan mereka terhadap agama ini.

• Biarkan mereka menyaksikan apa yang dilakukan musuh-musuh agama ini terhadap anak-anak seusia mereka dari anak-anak kaum muslimin; seperti yang terjadi pada anak-anak di Palestina.

• Menyemangati dan memotivasi dengan pemberian hadiah.

16. Kecenderungan Anaknya memiliki Keterampilan

Pada fase pertama, anak memiliki karakteristik kecenderungan menguasai keterampilan. Hendaknya kita memanfaatkan kesiapan itu untuk menumbuhkan beberapa keterampilan seperti keterampilan berpidato, menulis atau keterampilan-keterampilan lain yang bermanfaat bagi kemajuan umat. Tidak mengapa jika orang tua mengkhususkan waktu walau sehari seminggu untuk mengadakan suatu acara yang dapat meransum dan memotivasi keterampilan itu. Memberikan hadiah agar anak lebih merespons acara atau program itu.

17. Memperkaya Perkembangan Bahasa dengan Cepat 

Anak menikmati masa awal hidup mereka dengan menyerap secara cepat kosakata bahasa yang diucapkan orang tuanya. Karenanya kedua orang tua harus bersemangat untuk memperkaya putra-putri mereka dalam sisi ini. Baik dalam pembicaraan di antara mereka atau ketika bercerita tentang kisah-kisah Islami yang dikisahkan dengan bahasa formal sehingga dapat menambah perbendaharaan bahasa mereka. Tidaklah lenyap bahasa Arab melainkan ketika kita melalaikannya. Pengetahuan anak akan bahasa Arab membantu mereka dalam memahami makna kitab dan sunah. Oleh karena itu kita harus konsentrasi pada sisi ini dengan perhatian yang besar.

18. Penemu Kecil

Anak-anak pada fase pertama suka membongkar pasang barang. Itu menyerupai perangai seorang penemu dalam membongkar dan merangkainya kembali. Hal itu jangan membuat kita menjadi emosi jika mereka membongkar atau merusak sesuatu. Hal itu terjadi karena kita tidak memberi mereka alternatif yang sesuai. Semestinya kita mengarahkan karakteristik tersebut dengan menanamkan kepada mereka hal-hal penting, seperti keterkaitan kepada rumah Allah. Membongkar pasang dapat membuka wawasan nalar dan akal mereka dan menjadikan mereka bersandar pada diri sendiri sewaktu membongkar sesuatu dan memasangnya kembali.

19. Dicintai Diterima dan Dihargai

Anak-anak butuh dicintai, diterima oleh kedua orang tua dan guru mereka. Sudah semestinya ia merasakan bahwa dirinya adalah sumber kebahagiaan, pujian, kebanggaan ibu, ayah, keluarga dan pengajarnya. Jika bicara, yang lain diam mendengar pembicaraannya dan memberinya kesempatan luas. Dengan demikian ia akan merasa diterima, dihargai dan terlihat kecintaan kedua orang tuanya padanya.

20. Menyugesti Keberhasilan Anak

Setiap ayah dan ibu haruslah memiliki target. Targetnya adalah keberhasilan putra-putrinya dalam kehidupan ini. Puncak keberhasilan dari keberadaan mereka adalah terealisasinya penghambaan kepada Allah, Tuhan semesta alam sesuai dengan Al-Qur'an dan sunah. Tentu itu bukan berarti melalaikan keberhasilan mereka dalam perkara duniawi 

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Al-Baqarah:201)

Anak-anak butuh motivasi keberhasilan hingga sampai kepada tujuannya. Memang terkadang terdapat beberapa kendala, seperti perbedaan kemampuan dan karakteristik setiap anak. Ayah dan ibu hendaknya memperhatikan keadaan ini sehingga nantinya tidak membebani anak-anak dengan sesuatu di luar kemampuan mereka. Tidak boleh sama sekali membebani anak dengan pekerjaan sulit melebihi kemampuannya yang akan membuatnya gagal. Karena akibatnya ia akan merasa tidak mampu, kecewa, lemah dan menahan diri untuk melanjutkan aktivitasnya, bahkan menghindarinya.

21. Intilaq (Memulai)

Semestinya setiap ayah dan ibu memberi kebebasan anak untuk bergerak. Mereka butuh berjalan, berlari, berbicara, memanjat, melompat dan itu adalah tabiat anak-anak yang normal. Yang dimaksud adalah banyak bergerak. Merupakan kesalahan mengekang tabiat tersebut. Ini penting sekali dari sisi kesehatan, karena bergerak bermanfaat bagi  pertumbuhan fisik, naluri dan memicu kecerdasannya.

22. Persiapkan Mereka Teman-teman yang Saleh

Manusia secara tabiat naluriah suka bersosialisasi dan butuh kepada orang lain yang mempergauli, berbicara dengannya, menyertai kegelisahan, kesedihan dan kegembiraannya. Teman memiliki pengaruh yang amat besar dalam pembentukan kepribadian anak. Orang dahulu mengatakan:

"Katakan kepadaku siapa temanmu akan aku katakan siapa engkau."

Dalam sebuah syair: Jangan bertanya kepada seseorang tentang dirinya tetapi tanyalah setiap temannya, dengan temannya kamu akan mengetahuinya. 

Sudah seharusnya para ayah dan ibu membenamkan putra putri mereka dalam lingkungan yang saleh, agar dapat menyerap kebaikan dan tumbuh di atasnya. Teman memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam mempengaruhi perangai dan memotivasi temannya. Sehingga amat penting bagi anak kita memiliki teman yang berakhlak dan beragama. Tidaklah cukup pengetahuan kita akan bapaknya menjadikan kita tenang bahwa anak kita telah memiliki teman yang sesuai. Sebagaimana pula wajib ditanamkan bahwa pertemanan itu hendaknya terikat dengan ikatan syariat.

23. Menjadikan Anak Mandiri

Hendaknya para orang tua membiasakan putra-putrinya mandiri dalam urusan-urusan pribadi mereka dengan cara mereka sendiri. Merupakan kesalahan melayani segala keperluan anak yang mampu mereka lakukan sendiri tanpa perlu batuan orang tua. Karena akan berdampak pada:

• Ketergantungan kepada orang tua dalam memenuhi segala kebutuhannya.

• Menghidupkan dalam diri anak kemalasan dan suka menyuruh. Setiap yang mereka butuhkan senantiasa datang kepada mereka tanpa kesulitan dan penat.

• Berbenturan dengan kenyataan. Karena pada kenyataannya tidaklah segala yang diinginkan bisa didapat tanpa upaya untuk mendapatkannya.

24. Menjadikan Da'i Kecil

Sugestikan pada diri anak jalan dakwah kepada Allah -Azzawajalla-. Agar anak kita menjadi dai kecil yang akan memancarkan cahaya dan penerangan. Kenapa tidak, banyak contoh dalam terbitnya fajar Islam kisah anak-anak kecil yang memiliki kontribusi cemerlang dalam berdakwah kepada Allah.

25. Kenalkan Anak dengan muslihat musuh-musuh Agama ini

Penting mengenalkan putra-putri kita apa yang menjadi muslihat musuh-musuh agama ini yang sesuai dengan daya nalarnya. Hal ini memiliki berbagai manfaat, di antaranya:

a. Agar dia mengetahui keburukan, sehingga dapat menghindari dan menjauh darinya.

b. Menghidupkan loyalitas pada diri anak, dengan mengenalkan mereka bahwa motivasi muslihat musuh adalah kedengkian terhadap Islam.

c. Menambah kecintaan terhadap agama.

26. Putus Asa adalah Jalan Kegagalan

Kepada para ayah dan ibu janganlah mengenalkan jalan keputusasaan di hati anak-anak. Karena orang tua memikul amanah yang besar, hendaknya bersabar dan berjalan ke depan dalam mendidik putra-putrinya pendidikan Islami yang benar, yang menuntun mereka untuk mengamalkan agama ini dan merealisasikan cita-cita dari keberadaan mereka yaitu mengibadahi Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Hidup senantiasa diselimuti banyak kendala dan kekurangan. Ketenangan abadi hanyalah di negeri yang kekal akhirat. Adapun dunia, ia adalah negeri amal dan cobaan. Kita hanyalah melintasinya untuk menuju negeri akhirat yang merupakan negeri perhitungan dan balasan. Oleh sebabnya kenapa kita harus berputus asa?!

27. Hendaknya Bersabar

Kata sabar di dalam al-Quran disebut lebih dari 70 kali. Ini menunjukkan betapa penting dan besarnya kesabaran. Cita-cita dan harapan tidak akan tercapai tanpa kesabaran menapaki kesulitan dan beratnya beban mendidik. Ia merupakan jalan panjang yang dipenuhi kesulitan dan kepenatan. Para orang tua hendaknya menyadari bahwa tanggung jawab ini berat, tidak sekadar menyediakan makan dan minum saja, lebih dari itu. Hendaknya menghiasi diri dengan kesabaran, mengenakannya dan menjadikannya moto dalam mendidik. Orang tua mendapat pahala manakala disertai dengan niat yang saleh.

28. Berkonsultasi (Bermusyawarah)

Berkonsultasi amatlah penting dalam pendidikan anak. Ia merupakan tahapan pendidikan terpenting dan salah satu fondasi pokok. Yang demikian karena ia memiliki banyak manfaat dan hasil yang paripurna bagi yang mempraktekkan dan memperhatikannya. Ia menjauhkan kita dari problematika yang sebetulnya solusi dari problematika tersebut kita miliki. Oleh karena itu, kita hendaknya berkonsultasi kepada spesialis dalam perkara ini dari para alim ulama yang terpercaya agama dan amalnya.Al-Hasan al-Bashri -rahimahullah- berkata: 

"Demi Allah, tidaklah suatu kaum bermusyawarah, melainkan diberi petunjuk kepada yang lebih baik dari keadaan mereka semula." Kemudian dia membaca:
"...Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka..." (QS.Syuro:38)

29. Istikharah (Meminta Petunjuk Kepada Allah)

Ia merupakan petunjuk nubuat yang diajarkan Rasulullah kepada kita. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir Ibn Abdullah -radiallahu'anhuma-:

"Rasulullah mengajarkan kami istikharah dalam setiap perkara sebagaimana mengajarkan kami surat dari surat-surat al-Quran dan bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian ragu dalam suatu perkara, hendaknya melakukan shalat dua rakaat sunah, lalu mengucapkan :

[Allahumma inni astakhiruka bi ilmika, wa astaqdiruka bi qudrotika, wa as aluka min fadhlikal adzhim, fa innaka taqdiru walaa aqdir, wa ta'lamu walaa a'alam, wa anta 'allamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta'lamu anna hadzal amro khairun lii fii diinii wa ma'aasyi wa 'aaqibatu amrii – 'aajili amrii wa aajilihi- faqdurhu lii, wa yassirhu li tsumma baarik lii fiihi, wa in kunta ta'lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diini wa ma'aasyi wa 'aaqibatu amri –'aajili amrii wa aajilihi- fashrifhu 'anni washrifnii 'anhu, waqdir lialkhairo haitsu kaana tsumma ardhinii bihi. <Lalu menyebutkan hajatnya> ]

Tidak akan menyesal siapa pun yang beristikharah (meminta petunjuk) kepada Sang Pencipta dan bermusyawarah kepada kaum mukminin serta mempelajari permasalahannya. Allah -subhânahu wata'âla- berfirman:

"…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah." (QS. Ali Imran:159)

30. Berdo'a kemudian Berdo'a

Wahai para ayah yang baik dan ibu yang penyayang, atas kalian berdoa, kemudian berdoa; agar Allah memberi kalian taufik dalam mendidik anak-anak kalian dengan pendidikan yang saleh yang mengarahkan mereka berkhidmat kepada agama yang agung ini. Doa memiliki peran yang amat penting dalam kesalehan dan kebaikan anak. Berapa banyak doa yang bertepatan dengan waktu pengabulan menjadi sebab kebahagiaan anak di dunia dan akhirat. Sungguh demi Allah, berdoalah dengan doa yang saleh dan jangan meninggalkan langkah-langkah yang telah disampaikan sebelumnya.

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Anak Sakit Rawat Inap

Di catatan kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman saya dan suami sebagai orang tua saat anak sakit. Kejadian ini sudah lama sebenarnya. Saat itu sekitar tahun 2022 anak kami masih berusia 2 tahun. Awal mulanya pada weekend biasanya kami main di taman bermain tidak jauh dari rumah. Di taman tersebut ada kantin atau pujasera. Sambil bermain saya dan suami membeli makanan yang ada disana. Dan memang kami saat itu masih minim pengetahuan tentang kebersihan makanan. Kami membeli makanan dan anak saya memakan sedikit kerupuk ada di makanan yang kita pesan. Mungkin saat itu imun anak saya belum sempurna. Semenjak makan kerupuk itu malam harinya anak saya muntah.   Dini hari sekitar pukul 01.00 anak saya mulai muntah dengan durasi yang cukup sering. Setidaknya setiap setengah jam muntah dan hampir 4-5 kali muntah. Sampai pada akhirnya anak saya sangat lemas. Dan saat itu kami kebingungan untuk mencari tenaga medis karena masih dini hari. Alhamdulillah kami punya kontak bidan yang d...

Membersihkan Jiwa

Jiwa yang bersih akan melahirkan kedamaian dan ketenangan dalam hati. Jiwa yang bersih tumbuh dari ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, senantiasa melaksanakan amalan-amalan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jiwa yang bersih adalah sumber dari kebahagiaan sejati.  Ulama Syaikh Abdurrazaq Ibn Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah, dalam ebooknya berjudul "Sepuluh Tips Membersihkan Jiwa"  terjemah dari buku “Asryu Qawaid Fii Tazkiyatun Nafs” menjelaskan bagaimana kaidah-kaidah membersihkan jiwa sesuai dengan syariat Islam. Berikut ini adalah beberapa rangkuman dari penjelasan Syaikh Abdurrazaq Ibn Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah. Kaidah Pertama "Tauhid adalah Pokok Penyucian Jiwa" Sesungguhnya tauhid adalah tujuan kita diciptakan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa. “ Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu"  (QS. Adz-Dzariyyat: 56) Tauhid juga merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul. Sebaga...

Faidah dalam Mendidik Anak (Fadhilatusy Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid)

Faidah Pertama Anak adalah nikmat yang agung, anugerah yang bernilai dan karunia yang besar, yang merupakan salah satu nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya. Yang haruslah disyukuri, dipelihara dan dijaga. Anak adalah buah dari segala manfaat, penopang punggung dan perhiasan kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah SWT, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia." [QS al-Kahfi : 46] Faidah Kedua Islam mengakui dan menjamin hak-hak anak, bahkan Islam menjamin hak anak mulai dari semenjak belum dilahirkan, tepatnya mulai dari pemilihan ibu yang shalihah, lalu memperhatikan kondisi ibu saat hamil, memelihara hak hidup anak sejak dalam kandungan sampai lahir di kehidupan. Hak anak yang diakui setelah kelahirannya seperti, memberikan berita gembira dan bersuka cita dengan kehadirannya, mengadzani telinganya, dianjurkan men- tahnik-nya, hak bernasab kepada ayahnya, memilihkan nama yang baik untuknya, aqiqah, mencukur rambutnya lalu bersedekah seberat rambu...