Pendidikan kepada anak adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh orang tua. Peran orang tua sangat berguna untuk tumbuh kembang anak agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Sebagai orang tua penting untuk memahami perannya dalam mengasuh anak. Begitu banyak penjelasan dari berbagai sumber dan ahli tentang parenting & bagaimana menjalankan peran sebagai orang tua. Berikut ini adalah salah satu penjelasan dari Psikolog drs. Adriano Busfi mengenai peran Ayah dan Ibu dalam memberikan pengasuhan dan pendidikan kepada anak.
A. Mendidik Anak
Dalam ayat Al-Qur’an kita diajarkan satu doa yaitu doa anak kepada ayah bundanya
"Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira"
Artinya:
"Wahai Tuhanku, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil."
Dalam doa itu dijelaskan bahwa mendidik anak adalah tugas ayah dan bunda, bukan hanya ayah saja atau bunda saja. Jikalah memang harus dibedakan, maka ulama mengatakan bahwa ayah itu tarbiyah (yang mendidik), bunda yang mengasuh. Secara umum, pendidikan kewajiban keduanya. Peran ayah dan bunda berbeda, tidak harus melakukan peran yang sama. Peran ayah dan bunda harus disesuaikan dengan fitrah masing-masing. Pendidikan ayah berdasar fitrah seorang ayah, peran bunda sesuai fitrah bunda.
B. Peran Ayah
Mengapa Ayah harus mendidik anak?
1. Ayah menentukan haluan keluarga, haluan pendidikan. Ia merumuskan jati diri keluarganya. Kalau keluarganya keluarga ikan, ia akan mendidik keluarganya berenang. Tujuannya pun jelas, mau berenang ke mana. Merumuskan visi misi nilai budaya keluarga adalah tugas utama seorang ayah. Ayah itu tugasnya banyak, sehingga ia perlu buku putih yang akan menuntun seisi rumah, mau dibawa ke mana keluarga ini. Kalau ada yang mengatakan tugas utama ayah adalah mendidik maka tidak harus ayah ini selalu di rumah, selalu mendidik anak, yang penting adalah garis besar haluan dibuat oleh ayah sehingga ketika ditinggal ayah, anak tetap bisa mengikuti karena telah ditinggalkan kompas oleh ayahnya. Anak itu bernasab ke ayahnya, pada dasarnya mereka adalah anak-anak dari ayahnya. Karakter dasar turun dari ayah kepada anak, karakter unik turun dari bunda ke anaknya.
“Wahai orang-orang yang beriman, perihalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
[QS. At-Tahrim: 6]
2. Peran ayah adalah penanggung jawab pendidikan anak. Ibu adalah madrasatul ula, tapi
ayah adalah kepala sekolah yang harus membuat kurikulum. Kalau dalam masakan, ayah itu seperti chef karena sudah ada bunda yang menjadi juru masaknya. Sudah ada yang mengatur komposisinya. Jika tanpa resep, bahan makanan hanya menjadi sekumpulan bahan. Apa artinya seorang bunda yang mengajarkan A-Z, jika ayah tak menjaga pujangga. Huruf takkan menjadi kata, kata takkan menjadi kalimat, kalimat takkan menjadi alinea, alinea takkan menjadi tulisan, tulisan takkan menjadi buku. Peran ayah adalah peran strategis, bukan peran teknis. Ayah jangan panik jika dikatakan tugas utama mereka adalah mendidik anak. Kalau bunda menyediakan air, maka ayah menyediakan gelas, ember, dan semisalnya. Kalau hanya ada gelas, tidak ada ember dan semisalnya, air hanya akan tumpah.
3. Menjadi konsultan bunda.
Bunda sudah terlibat dalam aktivitas rutin yang bisa menimbulkan kejenuhan. Ia menghadapi masalah yang nyata dari waktu ke waktu, bunda butuh konsultan untuk tempat mengadu, meminta rekomendasi, meminta saran, bukan karena bunda tidak cerdas, tapi rutinitasnya dapat membuat dia letih. Tidak bisa membuat pikirannya jernih. Orang-orang pintar di kantor pun tetap butuh konsultan karena mereka terjebak dengan rutinitas dan kejenuhan. Mengajarkan consequency learning, misal anak suka marah dan membanting pintu. Setelah itu, pintu dicopot lalu anak meminta tolong agar pintu dipasang kembali dan akhirnya anak itu sudah tidak lagi membanting pintu. Kejadian lain misal bunda lapor anak suka membanting piring. Ayah mengusulkan memberikan nama pada piring yang dipakai anaknya dan beritahukan bahwa jika ia mau makan maka hanya boleh menggunakan piring yang bertuliskan namanya. Jika piringnya dibanting, maka anak tidak bisa makan dengan piring karena piring miliknya dipecahkan. Pendidikan iman seorang anak, tidak ada yang lebih baik mendidiknya kecuali ayahnya. Itulah mengapa yang mengazankan di telinga anak ketika baru lahir adalah ayah. Ia membisikkan kalimat-kalimat tauhid lewat lantunan azan. Mendidik iman tidak boleh berlebihan, tidak boleh nyinyir. Sedikit kuatkan dulu, sedikit pahami dulu, diberikannya bertahap. Bunda lebih cocok mengajarkan tentang tenggang rasa, kerja sama, harmoni.
4. Karena iman diajarkan dengan doktrin. Kalau bunda pendekatannya persuasif. Pendidikan iman juga heroik, dimen-dimensi iman lebih cocok jika Allah yang melakukan. Mendidik ego anak itu penting agar anak percaya diri agar anak mempengaruhi bukan dipengaruhi, anak berani meneggakan kebenaran walaupun sendirian, ia mampu berkata tidak. Bunda mengajarkan kebaikan, tapi ayahnya tidak mengajarkan ego, sehingga anak yang akhirnya dipengaruhi teman. Mendidik sistem berpikir. Agar anaknya berakal pikir, ayah mendidik anaknya mempunyai kemampuan berpikir.
5. Ayah mendidik maskulinitas
Mendidik keberanian, daya tarung, hal ini penting untuk anak laki-laki dan perempuan hanya saja berbeda persentase. Anak laki-laki sebanyak 75% maskulin dan 25% feminin, sedangkan anak perempuan itu 75% feminin dan 25% maskulin. Ayahnya mengajarkan anaknya survive baik anak laki-laki maupun perempuan sampai umurnya 10 tahun karena setelah 10 tahun, ada segregasi (pemisahan). Anak laki-laki dididik lebih maskulin dan perempuan lebih feminine. Seperti kata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, pisahkan mereka baik dalam tempat tidur dan pendidikannya.
6. Ayah mengajarkan entrepreneurship. Pelajaran business mengajarkan dagang sedangkan entrepreneurship ilmu hidup. Mau jadi pegawai sekalipun, ia harus belajar entrepreneurship dan itu di-supply oleh sang ayah. Bagaimana menghadapi risiko.
C. Peran Bunda
Bunda adalah pelaksana harian. Ayah membuat aturan, bunda mengambil kebijaksanaan. Jadi keseimbangan itu terjadi. Ayah mungkin kaku, tapi bunda lebih bijak.
1. Bunda mengajarkan akhlak. Makhluk yang memiliki keindahan, kesabaran, sekaligus kecerewetan, jadi seimbang.
2. Bunda mendidik sosial seperti kebersamaan, berbagi, toleransi, perdamaian, mendahulukan orang lain. Sosiabilitas dapat tercapai jika egonya kuat.
3. Bunda mendidik hati. Kata imam Al Ghazali,
“Hatilah yang menjadi raja dan otaknya menjadi perdana menterinya.”
Allah berulang kali menyebut fungsi hati di Al-Qu’ran. Jika islam berbicara tentang akal, maka itu berbicara tentang hati, bukan otak.
“Tidaklah mereka berjalan di muka bumi yang ia jadikan hatinya akal atau telinganya untuk mendengar. Sesungguhnya yang buta itu bukan mata, tapi hati yang ada di dalam dada.”
“Mereka punya akal, tapi tidak memahami dengan akalnya.”
4. Mendidik Feminin. Bahkan anak laki-laki pun perlu sisi feminin. Orang-orang yang berjalan itu adalah orang yang lemah lembut, tidak boleh berjalan di atas muka bumi dengan hentak-hentak, karena bumi tidak bisa dikasari. Hidup itu maskulin, tapi bumi itu feminin. Betapa banyak kita yang tidak mampu membaca isyarat bumi, tidak membaca isyarat istri, karena kita kurang dalam kepekaan dan rasa.
5. Bunda adalah pembasuh luka. Anak harus ada yang memeluk, memberi semangat untuk kembali menjalani kehidupan.
“Jika Allah memberikan amanah kepada kita seorang anak, pasti Allah sebelumnya sudah meng-install kompetensi untuk mendidik anak karena mustahil Allah memberi amanah kepada yang tidak kompeten. Kepada siapa Allah hidayahkan kompetensi mendidik anak sebelum anak itu ada adalah kepada ayahnya.”
Untuk Bunda, sering-seringlah bertanya pada ayah karena kompetensi mendidik anak ada pada Ayah. Bunda bertanya, ayah menjawab. Sayangnya, ayah zaman sekarang tidak tertarik dengan pendidikan anak dan ilmu-ilmu parenting. Cara menanamkan ilmu parenting kepada ayah adalah dengan banyak ditanyakan. Walaupun bunda lebih banyak ikut kajian parenting, tetaplah bertanya pada ayah. Kalau bunda bertanya, ayah jangan menjawab,”Bunda saja, kan bunda lebih paham.” Bunda adalah stimulasi agar ayah menggali ke dalam, mengingat kembali apa yang sudah Allah berikan.
Comments
Post a Comment