Skip to main content

Opini terhadap Profesi Ibu Rumah Tangga

Menjadi seorang Ibu adalah impian bagi setiap perempuan, karena itu merupakan salah satu dari kodratnya. Begitu besar kasih sayang dari seorang Ibu kepada anak, suami dan keluarganya. Ibu seperti mempunyai seribu kekuatan dan ahli dalam multitasking dalam mengurus keluarganya. Ibu juga rela berkorban demi kebahagiaan keluarganya. 

Tanggung jawab seorang Ibu dalam mengurus keluarga sangatlah besar. Terlebih Ibu yang berkarier, mereka mempunyai peran ganda yaitu mengurus keluarga dan juga bekerja. Ada yang tetap mengurus sendiri pekerjaan rumah tangga ada juga yang melibatkan asisten rumah tangga. 

Disamping itu Ibu yang berperan penuh sebagai ibu rumah tangga juga mepunyai tanggung jawab yang sama besar. Penilaian dari masyarakat kebanyakan cenderung menilai lebih rendah profesi Ibu rumah tangga dibandingkan dengan Ibu yang mempunyai karier. Mulai dari anggapan bahwa Ibu rumah tangga tidak bekerja, hanya santai-santai di rumah atau Ibu rumah tangga berpendidikan rendah. Nyatanya tanggung jawab Ibu rumah tangga juga sama besarnya. Mereka bahkan mendedikasikan dirinya untuk 24 jam setiap hari mengurus rumah, mulai dari menyiapkan makanan, membersihkan rumah, mencuci dan banyak pekerjaan lainnya. Ibu rumah tangga banyak juga yang jarang keluar rumah karena memang pekerjaan mereka adalah mengurus rumah. Hal ini juga membatasi mereka untuk bersosialisasi dengan kerabat ataupun sahabat. Jika Ibu yang berkarier masih bisa melihat dunia luar rumah dan bersosialisasi dengan rekan maka berbeda dengan kehidupan Ibu rumah tangga. Belum lagi Ibu yang masih mempunyai anak balita dan tanpa asisten rumah tangga tentu akan lebih banyak menyita tenaga dan pikiran. 

Beberapa Ibu karena alasan tertentu memilih untuk  menjadi Ibu rumah tangga. Alasan tersebut dapat disebabkan karena berbagai keadaan seperti tidak ada yang membantu mengasuh anak karena jauh dari keluarga, tidak ada biaya untuk membayar art atau ingin mengasuh sendiri anak mereka, tidak diperbolehkan suami untuk bekerja di luar, dan alasan lainnya. Banyak juga Ibu yang sebelumnya bekerja sebagai wanita karier namun setelah menikah  terpaksa untuk resign demi mengurus keluarga. 

Berbagai alasan tersebut lantas tidak bisa dijadikan alasan bahwa Ibu rumah tangga adalah pengangguran atau tidak cukup punya kemampuan untuk bekerja. Sebuah pengorbanan yang besar saat Ibu memilih untuk melepas atribut kariernya demi keluarga. Perjuangan adaptasi dari wanita karier yang terbiasa dengan kesibukan di luar dan harus beralih menjadi Ibu rumah tangga yang sebagian besar waktunya di rumah juga sangatlah tidak mudah. Butuh waktu yang cukup lama untuk kemudian bisa menyesuaikan diri sebagai Ibu rumah tangga. 

Namun saat ini sudah banyak Ibu rumah tangga yang justru sukses dengan melakukan usaha di rumah. Setidaknya ini bisa membuktikan bahwa Ibu rumah tangga juga berdaya dan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan rezeki. Lalu bagaimana dengan Ibu rumah tangga yang belum atau tidak punya usaha sampingan? Banyak juga Ibu rumah tangga yang murni mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan fokus mengurus keluarga. Dan itu merupakan ibadah yang sangatlah besar. Bukan berati mereka tidak bekerja, tetaplah sama pekerjaan rumah tangga tidak ada habisnya. Mungkin Ibu yang murni sebagai Ibu rumah tangga sudah terlalu sibuk mengurus keluarga, bisa karena anak masih balita dan tidak bisa ditinggal juga bisa karena kondisi keluarga tertentu maka membutuhkan perhatian lebih. 

Apapun profesi seorang Ibu adalah mulia. Entah itu berkarier ataupun Ibu rumah tangga,   sama saja beliau adalah seorang Ibu  dengan kodratnya yaitu mengurus keluarga. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Bagaimanapun anggapan masyarakat apalagi terhadap Ibu rumah tangga itu tidak akan merubah kemuliaan seorang Ibu. 

Hendaknya semua Ibu baik itu Ibu rumah tangga atau yang juga berkarier harus menyadari bahwa dirinya sangatlah berharga. Kebanyakan Ibu kurang bisa menghargai dan menyadari bahwa dirinya sangat berharga dan istimewa. Seorang Ibu juga selayaknya menyadari bahwa mereka harus bahagia. Ibu yang bahagia maka akan mampu membagikan kebahagiaan kepada keluarganya. Di sela kelelahan dari tugas seorang Ibu tentunya ada banyak hal yang bisa Ibu lakukan untuk sejenak membahagiakan diri sendiri selama dalam hal positif.

Ibu adalah pelita kehidupan. Ibu menjadi rumah bagi suami dan anaknya. Ibu adalah tempat bersandar untuk keluarga dikala ada keluh &  kesah. Oleh karena tanggung jawab seorang Ibu sangatlah besar maka Ibu wajib untuk bahagia. Ibu yang bahagia maka akan mewujudkan keluarga yang bahagia pula. Lebih menghargai diri sendiri merupakan salah satu kunci Ibu bahagia. 


Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Anak Sakit Rawat Inap

Di catatan kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman saya dan suami sebagai orang tua saat anak sakit. Kejadian ini sudah lama sebenarnya. Saat itu sekitar tahun 2022 anak kami masih berusia 2 tahun. Awal mulanya pada weekend biasanya kami main di taman bermain tidak jauh dari rumah. Di taman tersebut ada kantin atau pujasera. Sambil bermain saya dan suami membeli makanan yang ada disana. Dan memang kami saat itu masih minim pengetahuan tentang kebersihan makanan. Kami membeli makanan dan anak saya memakan sedikit kerupuk ada di makanan yang kita pesan. Mungkin saat itu imun anak saya belum sempurna. Semenjak makan kerupuk itu malam harinya anak saya muntah.   Dini hari sekitar pukul 01.00 anak saya mulai muntah dengan durasi yang cukup sering. Setidaknya setiap setengah jam muntah dan hampir 4-5 kali muntah. Sampai pada akhirnya anak saya sangat lemas. Dan saat itu kami kebingungan untuk mencari tenaga medis karena masih dini hari. Alhamdulillah kami punya kontak bidan yang d...

Membersihkan Jiwa

Jiwa yang bersih akan melahirkan kedamaian dan ketenangan dalam hati. Jiwa yang bersih tumbuh dari ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, senantiasa melaksanakan amalan-amalan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jiwa yang bersih adalah sumber dari kebahagiaan sejati.  Ulama Syaikh Abdurrazaq Ibn Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah, dalam ebooknya berjudul "Sepuluh Tips Membersihkan Jiwa"  terjemah dari buku “Asryu Qawaid Fii Tazkiyatun Nafs” menjelaskan bagaimana kaidah-kaidah membersihkan jiwa sesuai dengan syariat Islam. Berikut ini adalah beberapa rangkuman dari penjelasan Syaikh Abdurrazaq Ibn Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah. Kaidah Pertama "Tauhid adalah Pokok Penyucian Jiwa" Sesungguhnya tauhid adalah tujuan kita diciptakan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa. “ Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu"  (QS. Adz-Dzariyyat: 56) Tauhid juga merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul. Sebaga...

Faidah dalam Mendidik Anak (Fadhilatusy Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid)

Faidah Pertama Anak adalah nikmat yang agung, anugerah yang bernilai dan karunia yang besar, yang merupakan salah satu nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya. Yang haruslah disyukuri, dipelihara dan dijaga. Anak adalah buah dari segala manfaat, penopang punggung dan perhiasan kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah SWT, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia." [QS al-Kahfi : 46] Faidah Kedua Islam mengakui dan menjamin hak-hak anak, bahkan Islam menjamin hak anak mulai dari semenjak belum dilahirkan, tepatnya mulai dari pemilihan ibu yang shalihah, lalu memperhatikan kondisi ibu saat hamil, memelihara hak hidup anak sejak dalam kandungan sampai lahir di kehidupan. Hak anak yang diakui setelah kelahirannya seperti, memberikan berita gembira dan bersuka cita dengan kehadirannya, mengadzani telinganya, dianjurkan men- tahnik-nya, hak bernasab kepada ayahnya, memilihkan nama yang baik untuknya, aqiqah, mencukur rambutnya lalu bersedekah seberat rambu...