Skip to main content

Menjadi Ibu yang Dicintai Allah dan Anak-anaknya (Ringkasan Materi dalam Mushaf Al Qur'an)

Islam memberikan penghormatan dan kedudukan yang amat tinggi kepada para ibu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Surga itu di bawah telapak kaki ibu.” (HR. Ahmad) 

Seseorang yang menghormati ibunya akan ditempatkan di surga, sementara anak yang mendurhakai ibunya akan ditempatkan pada posisi yang hina.

Bila seorang muslimah menyadari betapa tinggi dan mulia peran ibu, niscaya ia tidak akan menukarnya dengan aktivitas-aktivitas yang hukumnya mubah. Sekiranya ia harus bekerja untuk membantu mencukupi nafkah keluarganya, maka ia akan mencari cara pelaksanaan aktivitas tersebut tanpa mengurangi keoptimalan peran keibuannya. Ia akan menjadi orang yang ingin melalui tahap demi tahap pertumbuhan anaknya diusia dini, sejak merawat kandungan, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Islam memberikan balasan atas aktivitas-aktivitas tersebut setara dengan pejuang fisabilillah digaris depan medan pertempuran. Rasulullah SAW bersabda, “Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya seperti pejuang digaris depan fisabilillah. Dan jika ia meninggal diantara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya adalah mati syahid.”                (HR. Thabrani)

Sungguh motivasi meraih kemuliaan inilah yang mendorong para ibu untuk mencurahkan kesungguhannya menjalankan perannya. Itulah sebabnya, tidak ada yang bisa menggantikan nilai strategis peran ibu dalam pendidikan anak usia dini. Ibu adalah pendidik anak yang pertama dan utama. Ibu adalah figur terdekat bagi anak. Kasih sayang sang ibu menjadi jaminan awal bagi tumbuh kembang anak secara baik dan aman. Sebab kedekatan fisik dan emosional merupakan aspek penting keberhasilan pendidikan. Kita tentunya mendambakan lahirnya generasi-generasi unggulan berkualitas pemimpin. Sudah saatnya harapan ini ditanamkan pada anak sejak dini. Ibulah harapan utama dalam mencetak generasi dambaan ini. 

Jika sebagian ibu masih mengesampingkan peranan “ibu” ini, bahkan melalaikan dengan berbagai alasan yang tidak dibenarkan dalam Islam, maka bagaimana kebaikan bisa sampai pada anak-anaknya.

Ibu memegang peran dan tanggung jawab yang terpenting pada anak-anak terutama dalam usia dini. Pada usia dini keterikatan anak dan ibu terjalin kuat. Bahkan secara khusus Al Qur’an menyebutkan adanya bakti kepada ibu lebih dari ayah. Inilah pesan Islam yang terdalam mengenai keutamaan dan kemuliaan peran ibu pada anak-anak usia dini.  “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman [31]: 14)

Dari Abu Hurairah ta meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Ya Rasulullah siapakah dari keluargaku yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?” Jawab beliau, “Ibumu.” Dia bertanya, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Setelah itu?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Bapakmu.” (HR. Al Bukhari Muslim)

Kasih ibu tak pernah terbalas oleh apapun juga. Yang bisa dilakukan anak hanyalah memberi penghormatan dan pelayanan, terutama ketika mereka sudah tua dan dalam keadaan lemah. Dengan alasan apapun, orang tua, terutama Ibu harus mendapat penghormatan dan pelayanan yang utama. Sesibuk apapun, sesulit apapun, Ibu harus terus dihormati dan dilayani.

Begitu agung sosok seorang ibu. Keutamaan seperti ini tentu saja hanya akan diberikan kepada para Ibu yang mengetahui hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah, pendamping suami, ibu dari anak-anak, bagian dari masyarakat dan pencetak generasi yang Rabbani. Namun tak jarang juga seorang ibu yang tidak mengerti bahkan tidak melakukan perannya sebagai seorang ibu. Rasulullah SAW bersabda, “Kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita (ibu) adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (Muttafaq Alaih) Hadist tersebut mengatur peran ayah dan ibu dalam keluarga. Ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu juga memiliki peran yang penting dan strategis dalam pendidikan anak di rumah. 

Menjadi Ibu yang Dicintai Allah SWT

1.  Menjaga amanah, karena anak yang ia lahirkan adalah amanah dari Allah SWT untuk dirawat, dijaga dan dididik agar menjadi peinado yang shalih shalihah.

2. Memberikan pendidikan yang baik dan menambah keimanan dan akidah yang benar dalam diri anak-anak.

3. Selalu berdoa kepada Allah Ta’ala agar keturunannya menjadi anak yang shalihah. 

4. Memberi nama kepada anak dengan nama-nama yang terindah untuk mereka. Karena makna yang terkandung dalam nama tersebut adalah doa dan harapan dari orang tua.

5. Menanamkan sifat-sifat baik dan terpuji dalam diri anak dan menjauhkan mereka dari akhlak yang tercela.

6. Mendorong anak untuk hafal Al Qur’an 

7. Membentengi mereka dengan dzikir-dzikir syar’i.

8. Memperhatikan teladan dalam kebaikan.

Dalam hal-hal yang bersifat praktis yang dapat dilakukan Ibu dalam menanamkan kebaikan kepada anak:

1. Mengajarkan akhlak yang baik dengan cara yang benar dan tepat. Mengajarkan kepada anak pengajaran yang baik dan dengan cara yang baik. Hendaknya anak diajarkan bagaimana akhlak yang baik kepada Allah SWT, Al Qur’an, Rasulullah SAW, para Nabi dan Rasul, Ahlul Bait (keluarga Rasulullah SAW), para sahabat, orang-orang shaleh, dan para ulama kaum muslimin. Juga dengan alam tumbuhan binatang dan benda-benda mati semua ciptaan Allah SWT.

2. Menjelaskan pendapat kita kepada anak sesungguhnya mereka menyukai untuk mendengarkan pembinaan yang kita berikan kepada mereka.

3. Meminta maaf kepada anak jika kita melakukan kesalahan atau sesuatu yang membuat anak merasa sedih. Bukan hal yang tercela seorang ibu jika meminta maaf kepada anaknya, “Setiap Bani Adam itu bersalah, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Muslim, An-Nasai, Ahmad)

4. Menambahkan wawasan kepada anak dan memberi mereka wawasan pengetahuan. Hal ini akan membantu anak-anak dalam membina kepribadiannya yang kuat.

5. Menjadikan anak-anak mencintai perbuatan-perbuatan baik dan keshalihan. Hal ini tidak akan terwujud dari sela-sela pembicaraan dan nasihat saja tetapi dibutuhkan teladan dan perbuatan langsung saat sejak kecil hingga dewasa.

6. Menemani anak-anak dan menjadi teman bagi mereka dalam pelajarannya, penuntun dalam perjalanan hidupnya. Menjadi sahabat yang selalu memberikan pemahaman dan mengetahui rahasia-rahasia pribadinya.

7. Melindungi anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan baik dari kalangan jin maupun manusia. Menjaga penuh kehormatan anak menjaga dan membatasi pergaulannya. Sehingga dia akan terbiasa menajaga dirinya sendiri dari pengaruh yang tidak baik.

8. Mengingatkan kepada anak-anak bahwa kita sebagai ciptaan Allah SWT termasuk orang yang diwajibkan untuk sholat dan menjaganya dan berdzikir kepada Allah SWT. 

9. Memberikan motivasi kepada anak untuk mendapatkan surga, bahkan surga firdaus yang tertinggi, dan memperingatkan mereka dari api neraka. Semoga Allah SWT melindungi kita semua darinya dan dari kejelekannya.

10. Menghiasi ucapan dan ungkapan-ungkapan kita sebagai orang tua dimana kalimat tang baik itu adalah sedekah. Dan mempunyai pengaruh tang besar pada jiwa anak dan hubungan mereka kepada kedua orang tuanya.

11. Mengucapkan salam kepada anak setiap kita bertemu dengan mereka.

12. Menjadi peran dan teman yang baik bagi anak pada setiap tanggung jawab yang mereka pikul.

13. Menyambung kasih sayang orang tua kepada anak. Mengajarkan anak untuk bersilaturahim dan berziarah ke kerabat-kerabatnya.

14. Mengajarkan kepada anak berbagi dengan cara yang halal baik dalam memberi, jual beli ataupun perdagangan.

15. Mengobati anak anak jika sakit 

16. Menaungi anak dengan cinta, kasih sayang dan perhatian.

17. Mengajarkan kepada anak ilmu syar’i dan dunia sehingga mereka mampu bertahan dalam kehidupan dunia dan kebaikan akhirat.

18. Menjadikan diri sebagai orang tua yang baik dan berpenampilan baik.

19. Membedakan generasi kita sebagai orang tua dengan generasi anak. Membedakan cara pandang kita dan cara pandang mereka.

20. Memberikan kasih sayang yang tulus kepada anak.

21. Memuliakan anak dan membersihkan mereka dari kehinaan dan sifat tercela, rendah diri, tertuduh sebagai orang yang bodoh, tidak dapat menjaga diri, mubazir dan akhlak-akhlak buruk lainnya.

22. Memberikan dan menunjukkan kasih sayang yang tulus kepada anak.

23. Bercanda dengan mereka.

24. Mengajak anak untuk berdialog atau berdiskusi bersama.

25. Menenangkan mereka.

26. Menghantarkan kepergian mereka dan menyambut kedatangannya.

27. Mudahkan mereka dan jangan mempersulit. Diantara hak anak atas orang tuanya adalah mendapat kemudahan dan keluwesan dalam bermuamalah.

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Anak Sakit Rawat Inap

Di catatan kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman saya dan suami sebagai orang tua saat anak sakit. Kejadian ini sudah lama sebenarnya. Saat itu sekitar tahun 2022 anak kami masih berusia 2 tahun. Awal mulanya pada weekend biasanya kami main di taman bermain tidak jauh dari rumah. Di taman tersebut ada kantin atau pujasera. Sambil bermain saya dan suami membeli makanan yang ada disana. Dan memang kami saat itu masih minim pengetahuan tentang kebersihan makanan. Kami membeli makanan dan anak saya memakan sedikit kerupuk ada di makanan yang kita pesan. Mungkin saat itu imun anak saya belum sempurna. Semenjak makan kerupuk itu malam harinya anak saya muntah.   Dini hari sekitar pukul 01.00 anak saya mulai muntah dengan durasi yang cukup sering. Setidaknya setiap setengah jam muntah dan hampir 4-5 kali muntah. Sampai pada akhirnya anak saya sangat lemas. Dan saat itu kami kebingungan untuk mencari tenaga medis karena masih dini hari. Alhamdulillah kami punya kontak bidan yang d...

Membersihkan Jiwa

Jiwa yang bersih akan melahirkan kedamaian dan ketenangan dalam hati. Jiwa yang bersih tumbuh dari ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, senantiasa melaksanakan amalan-amalan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jiwa yang bersih adalah sumber dari kebahagiaan sejati.  Ulama Syaikh Abdurrazaq Ibn Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah, dalam ebooknya berjudul "Sepuluh Tips Membersihkan Jiwa"  terjemah dari buku “Asryu Qawaid Fii Tazkiyatun Nafs” menjelaskan bagaimana kaidah-kaidah membersihkan jiwa sesuai dengan syariat Islam. Berikut ini adalah beberapa rangkuman dari penjelasan Syaikh Abdurrazaq Ibn Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah. Kaidah Pertama "Tauhid adalah Pokok Penyucian Jiwa" Sesungguhnya tauhid adalah tujuan kita diciptakan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah Ta’alaa. “ Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu"  (QS. Adz-Dzariyyat: 56) Tauhid juga merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul. Sebaga...

Faidah dalam Mendidik Anak (Fadhilatusy Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid)

Faidah Pertama Anak adalah nikmat yang agung, anugerah yang bernilai dan karunia yang besar, yang merupakan salah satu nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya. Yang haruslah disyukuri, dipelihara dan dijaga. Anak adalah buah dari segala manfaat, penopang punggung dan perhiasan kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah SWT, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia." [QS al-Kahfi : 46] Faidah Kedua Islam mengakui dan menjamin hak-hak anak, bahkan Islam menjamin hak anak mulai dari semenjak belum dilahirkan, tepatnya mulai dari pemilihan ibu yang shalihah, lalu memperhatikan kondisi ibu saat hamil, memelihara hak hidup anak sejak dalam kandungan sampai lahir di kehidupan. Hak anak yang diakui setelah kelahirannya seperti, memberikan berita gembira dan bersuka cita dengan kehadirannya, mengadzani telinganya, dianjurkan men- tahnik-nya, hak bernasab kepada ayahnya, memilihkan nama yang baik untuknya, aqiqah, mencukur rambutnya lalu bersedekah seberat rambu...